Kamis, 11 Agustus 2011

Mendeteksi Dan Merawat Sistem Pendinginan Mobil Mendeteksi Dan Merawat Sistem Pendinginan Mobil

Mendeteksi Dan Merawat Sistem Pendinginan Mobil





Sumber : Otomotifnet.com

Mesin jenis pembakaran pada sebuah mobil, pasti dibekali sistem pendinginan agar panas mesin bisa diredam hingga suhu tertentu. Uniknya, kondisi ideal sebuah mesin juga memiliki suhu kerja normal antara 80-90°C. Lewat dari suhu itu, mesin akan mengalami gejala overheating yang ditandai dengan gejala knocking alias ngelitik. Namun juga tidak boleh di bawah suhu tadi karena bisa overcooling, sehingga konsumsi BBM boros. Tak heran bila sistem pendinginan mesin yang lazim mengandalkan air atau coolant ini, memegang peranan penting agar mobil selalu fit diajak jalan.

“Apalagi mesin mobil zaman sekarang, mayoritas menggunakan material aluminium, pendinginan yang baik dan bermutu menjadi wajib,” tutur Taqwa SS dari Garden Speed di bilangan Cilandak, Jaksel.

Menjadi pertanyaan bagi sebagian besar pemilik mobil adalah, bagaimana cara merawat atau mendeteksi sebuah sistem pendinginan bekerja dengan baik?. Sebenarnya hal ini sudah menjadi menu wajib bagi setiap bengkel resmi saat mobil mengalami servis rutin atau berkala. Toh, tak ada salahnya mendalami perangkat pendinginan secara detil agar bisa selalu waspada saat mengalami kelainan di jalan.

“Minimal driver bisa tahu kegagalan atau penyebab mobil mogok akibat kesalahan pada sistem pendinginan,” kelakar Michael Andries dari M-Tuning di Pondok Cabe.

Slang Radiator
Namanya juga penghubung, berarti menjadi jalur air antara mesin dan radiator. Sampai sekarang, mayoritas slang radiator masih memakai material karet yang dikombinasi anyaman nylon sebagai penguat. Slang harus kuat menahan air panas hingga suhu 100°C.

Lantaran usia pakai, slang radiator juga bisa rusak atau bocor. Biasanya menjadi getas dan kemudian mengeras. Buntutnya pecah sehingga tak mampu menahan tekanan tinggi air yang melintas. “Selalu gunakan slang bermutu baik,” jelas Anwar dari Ridho Radiator, Kebon Jeruk, Jakbar.

Reservoir Tank



Tangki kecil bersebelahan dengan radiator ini merupakan indikator volume air di dalam sistem pendinginan mesin. Dibilang reservoir karena fungsinya memang untuk mensuplai air radiator bila terjadi kekurangan dan sebaliknya, menjadi wadah tumpahan air saat radiator bersuhu tinggi menuju reservoir tank.

Meski tangki air cadangan ini terbuat dari bahan plastik keras, namun tak selamanya bisa menahan air dengan suhu tinggi. Ada kalanya mengalami kebocoran akibat retak. Sebaiknya selalu memeriksa tangki cadangan ini sebelum mobil keluar rumah. Baik kondisi tangki maupun isi.

Radiator



Peranti pendingin di belakang gril ini, sebagai media menurunkan suhu panas air berasal dari kepala silinder. Bentuknya seperti sarangan dengan puluhan jalur air. Air panas ini dialirkan menuju radiator untuk didinginkan, sebelum dialirkan kembali ke dalam mesin. Lazimnya bermaterial tembaga atau aluminium. “Dengan bantuan angin dari depan, suhu air bisa konstan di 90°C,” jelas Anwar.

Namun lantaran usia pakai atau kesalahan perawatan, kisi-kisi (sarangan) pada radiator bisa bocor dan menyebabkan air keluar hingga habis. Lakukan pengecekan air radiator pada pagi hari setiap kali mobil akan keluar rumah, untuk memastikan jumlah air tak berkurang. Bila dalam sehari harus melakukan penambahan hingga 1 liter berarti ada kemungkinan bocor pada radiator. Selain slang radiator, resevoir tank dan radiator yang sudah dikupas dalam tulisan sebelumnya, ternyata ada beberapa hal lagi yang musti mendapat perhatian penuh. Diantaranya thermostat, kipas pendingin dan water pump.

Thermostat
Pengatur waktu pengiriman air dari dalam kepala silinder. Pada saat suhu air belum mencapai 85-90°C, thermostat belum membuka untuk mengalirkan air ke radiator. Thermostat bekerja berdasarkan sensor tekanan mekanis (pegas). “Pada suhu tertentu, air menghasilkan tekanan untuk membuka sensor mekanis per tadi,” jelas Michael.

Salah kaprah, thermostat kerap dicopot untuk mengurangi gejala overheat. Padahal tanpa thermostat, air yang belum sempat dingin oleh radiator sudah keburu masuk ke dalam mesin. Dan sebaliknya, air yang belum mencapai suhu kerja ideal sudah keburu dialirkan ke radiator.

“Kerap terjadi bila thermostat rusak, mesin justru overheat saat digeber kencang di jalan tol karena air yang belum sempat dingin sudah masuk kembali ke kepala silinder akibat water pump memompa air lebih cepat,” jelas Anwar.

Kipas Pendingin
Kipas pendingin membantu radiator. Bila hembusan angin dari depan sangat minim, kipas mengambil alih fungsi pendinginan. Lazimnya mobil memakai teknologi viscous fan atau electric fan. Viscous fan adalah kipas manual berpenggerak puli kruk as via belt. Disebut viscous karena bagian tengah kipas memakai sensor bi-metal. Semakin tinggi suhu di ruang mesin, semakin kencang pula viscous fan berputar. Jenis lain adalah electric fan. Digerakan oleh motor listrik dengan sensor thermal dan menempel di belakang radiator. Kipas bekerja bila suhu mesin mencapai derajat tertentu. Failure pada kipas adalah putaran yang lemah sehingga suplai angin tak mumpuni. Pada viscous fan bisa disebabkan bi-metal sudah afkir. Elektric fan ‘lemot’ karena kumparan motor listrik sudah atau sensor thermal rusak.


Radiator Coolant
Cairan ini memiliki titik didih pas untuk sistem pendinginan mesin. Cairan yang diracik dengan material kimia ini, mampu menahan titik didih air biasa sehingga suhu di dalam kepala silinder bisa diredam. Ada anggapan coolant dianggap memanipulasi suhu air yang sebenarnya.

Namun radiator coolant memiliki fungsi lain seperti mengurangi efek korosi pada bahan radiator dan memiliki senyawa kimia yang mampu membersihkan kotoran seperti lumpur dan endapan dari air yang bersirkulasi di radiator. “Tetapi harus pandai memilih coolant karena beberapa produk justru memiliki ramuan atau senyawa kimia tajam sehingga mengikis material logam radiator,” wanti Anwar yang sudah menemukan beberapa kasus.

Waterpump
Pompa air adalah komponen yang menyalurkan air dari mesin menuju radiator dan sebaliknya. Peranti bermaterial aluminium ini terletak di kepala silinder sekaligus sebagai gerbang (pintu air) dari mesin menuju radiator. Meski tergolong slow moving parts dengan usia pakai hingga tahunan, bisa juga afkir.

Biasanya karena kualitas air atau coolant yang jelek sehingga bantalan atau laher kipas di dalam pompa menjadi rusak atau oblak. Korosi akibat air yang menjadi musuh semua logam juga bisa menjadi penyebab. “Makanya waterpump mendapat jadwal penggantian setiap 3 tahun sekali,” jelas Taqwa. Apalagi kalau suku cadang yang dipakai bukan versi asli, bisa lebih singkat lagi masa penggantiannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar