Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengapian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Pengapian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 11 Agustus 2011

Cara Kerja Sistem Pengapian Platina {Mobil Jadul}

Cara Kerja Sistem Pengapian Platina {Mobil Jadul}

Cara Kerja Sistem Pengapian Platina {Mobil Jadul}

autotuhu.wordpress.com/.../cara-kerja-sistem-pengapian-platina-...

30 Votes
Sistem pengapian mobil-mobil modern tak lepas dari perkembangan teknologi sistem pengapian pada mobil jadul alias masih menggunakan platina sebagai plat kontak untuk menghubungkan dan memutus aliran listrik primer koil agar terjadi induksi/GGL pada sekunder yang berupa listrik tegangan tinggi untuk mensuplai busi agar memercikkan bunga api. Platina mobil berupa plat kontak yang berfungsi sebagai penghubung & pemutus yang di hubungkan oleh ebonit/kaki platina dan di kontrol oleh nok delco(Distributor), apabila kaki ebonit tidak terdorong oleh nok delco maka plat kontak akan terhubung sekaligus mengalirkan aliran listrik primer koil ke ground dan menciptakan medan magnet pada primer coil, dan pada saat nok delco menyentuh/mendorong ebonit platina maka listrik dari primel coil akan terputus, pada saat listrik primer coil terputus maka terjadi GGL/induksi tegangan tinggi pada sekunder coil, dengan adanya kondesor/kapasitor yang terhubung secara paralel dengan platina akan membantu meningkatkan besar induksi dan menghilangkan bunga api pada saat platina mulai terbuka/memutus, hal ini bertujuan agar plat kontak platina tidak mudah terbakar dan mampu berumur panjang. Besar/lamanya saat platina terhubung di pengaruhi oleh lebar Permukaan AS delco yang rata/datar hal ini di sebut dengan sudut dwell, dimana sudut/lama saat platina menghubungkan aliran listrik ke primer coil. Apabila celah platina kita bikinrapat so pasti sudut dwell akan menjadi besar dan kebalikannya.

Sistem pengapian kondensator

Sistem pengapian kondensator

id.wikipedia.org/wiki/Sistem_pengapian_kondensator
Sistem pengapian kondensator (kapasitor) atau CDI (Capacitor Discharge Ignition) merupakan salah satu jenis sistem pengapian pada kendaraan bermotor yang memanfaatkan arus pengosongan muatan (discharge current) dari kondensator, guna mencatudaya Kumparan pengapian (ignition coil).
Pada Sistem pengapian magneto terdapat beberapa kekurangan, yaitu:
  1. Kumparan pengapian yang dipakai haruslah mempunyai nilai Induktansi yang besar, sehingga unjuk kerjanya di putaran tinggi mesin kurang memuaskan.
  2. Bentuk fisik kumparan pengapian yang dipakai relatif besar.
  3. Pemakaian kontak pemutus (breaker contact) menuntut perawatan dan penggantian komponen tersendiri.
  4. Membutuhkan Pencatu daya yang mempunyai keluaran dengan Beda potensial listrik yang relatif rendah dan Kuat arus listrik yang relatif besar. Hal ini menuntut pemakaian komponen penghubung yang mempunyai nilai Resistansi serendah mungkin.
Walaupun pada nantinya dikembangkan Sistem pengapian transistor atau TSI (Transistorized Switching Ignition) atau TCI (Transistor Controlled Ignition) yang menggunakan transistor untuk menggantikan kontak pemutus, perlahan-lahan kurang diminati seiring dengan kemajuan teknologi.

Cara kerja

Awalnya sebuah pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk Arus listrik searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya kumparan pengapian melalui sebuah Saklar elektronik.
Karena bekerja dengan secara elektronik, sebagian besar komponennya merupakan komponen-komponen elektronik yang ditempatkan pada Papan rangkaian tercetak atau Printed Circuit Board (PCB), lalu dibungkus dengan bahan khusus agar terlindungi dari kotoran, uap, cairan maupun panas. Banyak orang yang menyebutnya modul CDI (CDI module), kotak CDI (CDI box), atau "CDI" saja.
Berdasarkan pencatu dayanya, sistem pengapian CDI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Sistem pengapian CDI AC yang merupakan dasar dari sistem pengapian CDI, dan menggunakan pencatu daya dari sumber Arus listrik bolak-balik (dinamo AC/alternator).
  2. Sistem pengapian CDI DC yang menggunakan pencatu daya dari sumber arus listrik searah (misalnya dinamo DC, Batere, maupun Aki).
Awalnya sebuah pencatu daya akan mengisi muatan pada kondensator dalam bentuk Arus listrik searah sampai mencapai beberapa ratus volt. Selanjutnya sebuah pemicu akan diaktifkan untuk menghentikan proses pengisian muatan kondensator, sekaligus memulai proses pengosongan muatan kondensator untuk mencatudaya kumparan pengapian melalui sebuah Saklar elektronik.
Karena bekerja dengan secara elektronik, sebagian besar komponennya merupakan komponen-komponen elektronik yang ditempatkan pada Papan rangkaian tercetak atau Printed Circuit Board (PCB), lalu dibungkus dengan bahan khusus agar terlindungi dari kotoran, uap, cairan maupun panas. Banyak orang yang menyebutnya modul CDI (CDI module), kotak CDI (CDI box), atau "CDI" saja.
Berdasarkan pencatu dayanya, sistem pengapian CDI terbagi menjadi dua jenis, yaitu:
  1. Sistem pengapian CDI AC yang merupakan dasar dari sistem pengapian CDI, dan menggunakan pencatu daya dari sumber Arus listrik bolak-balik (dinamo AC/alternator).
  2. Sistem pengapian CDI DC yang menggunakan pencatu daya dari sumber arus listrik searah (misalnya dinamo DC, Batere, maupun Aki).

Bagian-bagian sistem pengapian

Berikut bagian-bagian yang bisa ditemui (atau mungkin beberapa diantaranya kadang-kadang tidak dipakai karena sesuatu hal) di dalam suatu sistem pengapian CDI:
  1. Kumparan pengisian (charging coil).
  2. Kumparan pemicu (trigger/pulser coil).
  3. Penyearah (rectifier).
  4. Baterai (battery).
  5. Sekering (fuse).
  6. Kunci kontak (contact switch).
  7. Kondensator (capacitor).
  8. Saklar elektronik (electronic switch).
  9. Pengatur/penyetabil tegangan (voltage regulator/stabilizer).
  10. Transformator penaik tegangan (voltage step up transformer).
  11. Pengubah tegangan (voltage converter/inverter).
  12. Pelipat tegangan (voltage multiplier).
  13. Kumparan pengapian (ignition coil).
  14. Kabel busi (spark plug cable).
  15. Busi (spark plug).
  16. Sistem pengawatan (wiring system).
  17. Jalur bersama (common line).

Catatan

Ada banyak ragam modul CDI dibuat, pada dasarnya harus memenuhi kebutuhan yang diminta kumparan pengapian dan secara tidak langsung harus menunjang pembakaran seoptimal mungkin, dengan cara mengatur besarnya arus, tegangan dan durasi dari proses pengisian dan pengosongan muatan kondensator. Hal ini menentukan besarnya pasokan daya untuk kumparan pengapian dan juga Pewaktuan pengapian (ignition timing).

sistem pengapian konvensional pada motor bakar

sistem pengapian konvensional pada motor bakar

sistem pengapian konvensional pada motor bakar

teddy.blog.uns.ac.id/.../sistem-pengapian-konvensional-pada-mot...

Sistem pengapian motor bakar secara umum dibagi kedalam tiga jenis yaitu :
  1. sistem pengapian secara konvensional
  2. sistem pengapian secara elektronik
  3. sistem pengapian secara digital elektronik
pada motor bakar dengan sistem pengapian secara konvensional terdapat dua jenis sistem pengapian yaitu dengan menggunakan magnet dan menggunakan batere. Kedua jenis sistem adalah jenis sistem pengapian yang paling sederhana karena sudah tidak digunakan lagi sejak abad 20.
Prinsip terbentuknya bunga api dengan alat penyala magnet adalah sebagai berkut :
  1. Stop contack posisi on dan pemutus arus atau platina (breaker points) tertutup, maka jangkar dan kumparan primer atau magnet berputar dan terjadi medan magnet pada koil
  2. Arus primer terputus karena bagian platina terbuka oleh gerakan berputar dari cam maka medan magnet hilang dan timbul arus induksi pada kumparan sekunder dan mampu menghasilkan tegangan mencapai 15000 volt sehingga timbul bunga api pada busi. Bunga api listrik juga terjadi pada setiap gap termasuk pada platina. oleh karena itu dipasang kondensor guna menyerap arus induksi.
Pada sistem pengapian dengan menggunakan batere hampir sama dengan sistem pengapian menggunakan magnet hanya saja arus listrik dapasok oleh batere yang dialirkan ke koil dan menghasilkam arus primer. Ketika arus primer ini terputus oleh gerakana cam, timbul arus induksi yang sangat tinggi dan arus inilah yang menyebabkan terbentuknya bunga api pada busi.

Sistem pengapian CDI

Sistem pengapian CDI

Sistem pengapian CDI

Capacitor Discharge Ignition (CDI)
merupakan sistem pengapian elektronik yang sangat populer
digunakan pada sepeda motor
saat ini. Sistem pengapian CDI terbukti lebih menguntungkan dan lebih baik
dibanding sistem pengapian konven-sional (menggunakan platina). Dengan
sistem CDI, tegangan pengapian
yang dihasilkan lebih besar (sekitar 40 KV) dan stabil sehingga proses
pembakaran campuran bensin dan udara bisa berpeluang makin sempurna
Dengan demikian, terjadinya endapan karbon pada busi juga bisa dihindari. Selain itu, dengan sistem CDI tidak memerlukan penyetelan seperti penyetelan pada platina. Peran platina telah digantikan oleh oleh thyristor sebagai saklar elektronik dan pulser coil atau “pick-up coil” (koil pulsa generator) yang dipasang dekat flywheel generator atau rotor alternator (kadang-kadang pulser coil menyatu sebagai bagian dari komponen dalam piringan stator, kadang-kadang dipasang secara terpisah).
Secara umum beberapa kelebihan sistem pengapian CDI dibandingkan dengan sistem pengapian konvensional adalah antara lain :
1. Tidak memerlukan penyetelan saat pengapian, karena saat pengapian terjadi secara otomatis
yang diatur secara elektronik.
2. Lebih stabil, karena tidak ada loncatan bunga api seperti yang terjadi pada breaker point (platina) sistem pengapian konvensional.
3. Mesin mudah distart, karena tidak tergantung pada kondisi platina.
4. Unit CDI dikemas dalam kotak plastik yang dicetak sehingga tahan terhadap air dan
goncangan.
5. Pemeliharaan lebih mudah, karena kemungkinan aus pada titik kontak platina tidak ada.


Cara Kerja Sistem Pengapian CDI

Pada saat magnet permanen (dalam flywheel
magnet) berputar, maka akan dihasilkan arus listrik AC dalam bentuk induksi listrik dari source coil seperti terlihat pada gambar disamping. Arus ini akan diterima oleh CDI unit dengan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt. Arus tersebut selanjutnya dirubah menjadi arus setengah gelombang (menjadi arus searah) oleh diode, kemudian disimpan dalam kondensor (kapasitor) dalam CDI unit. Kapasitor tersebut tidak akan melepas arus yang disimpan sebelum SCR (thyristor) bekerja. Pada saat terjadinya pengapian, pulsa generator akan menghasilkan arus sinyal. Arus sinyal ini akan disalurkan ke gerbang (gate) SCR. Dengan adanya trigger (pemicu) dari gate tersebut, kemudian SCR akan aktif (on) dan menyalurkan arus listrik dari anoda
(A) ke katoda (K). Dengan berfungsinya SCR tersebut, menyebabkan kapasitor melepaskan arus (discharge) dengan cepat. Kemudian arus mengalir ke kumparan primer (primary coil) koil pengapian untuk menghasilkan tegangan sebesar 100 sampai 400 volt sebagai tegangan induksi sendiri. Akibat induksi diri dari kumparan primer tersebut, kemudian terjadi induksi dalam kumparan sekunder dengan tegangan sebesar 15 KV sampai 20 KV. Tegangan tinggi tersebut
selanjutnya mengalir ke busi dalam bentuk loncatan bunga api yang akan membakar campuran bensin dan udara dalam ruang bakar. Terjadinya tegangan tinggi pada koil pengapian adalah saat koil pulsa dilewati oleh magnet, ini berarti waktu pengapian (Ignition Timing) ditentukan oleh penetapan posisi koil pulsa, sehingga sistem pengapian CDI tidak memerlukan penyetelan
waktu pengapian seperti pada sistem pengapian konvensional. Pemajuan saat pengapian terjadi secara otomatis yaitu saat pengapian dimajukan bersama dengan bertambahnya tegangan koil pulsa akibat kecepatan putaran motor. Selain itu SCR pada sistem pengapian CDI bekerja
lebih cepat dari contact breaker (platina) dan kapasitor melakukan pengosongan arus (discharge) sangat cepat, sehingga kumparan sekunder koil pengapian teriduksi dengan
cepat dan menghasilkan tegangan yang cukup tinggi untuk memercikan bunga api pada busi.


Komponen Sistem Pengapian CDI

Baterai

Baterai adalah suatu alat electrochemical yang dapat merubah energi kimia menjadi energi listrik melalui reaksi kimia kelistrikan.

Kunci Kontak


Kunci kontak adalah alat/komponenmemutus dan menghubungkan arus dan tegangan dari baterai ke sistem pengapian.

Pada kunci kontak ini terdapat beberapa terminal dan cara kerja/hubungan ke masing-masing terminal pada sistem pengapian.

Ignition Coil
Adalah alat yang bekerja menggunakan induksi elektromagnetik untuk dapat menaikkan tegangan baterai dari 12 volt menjadi 20.000 volt.



Unit Pemutus Arus

Unit pemutus arus adalah beberapa komponen yang menyatu dalam suatu rangkaian yang mengatur aktif atau tidaknya ignition coil dalam sistem pengapian.
Beberapa jenis unit pemutus arus :

1. Pengapian konvensional menggunakan Platina.
2. Pengapian Elektronik menggunakan :
* Pengapian CDI menggunakan Thyristor / SCR dan Capasitor.
* Pengapian Transistor menggunakan Transistor.



Distributor

Distributor adalah komponen pengapian otomotif yang terdiri dari beberapa bagian untuk menyalurkan arus tegangan tinggi.



Busi
Komponen ini menerima tegangan tinggi yang dibuat di koil pengapian, dan membangkitkan bunga api guna mengapikan percampuran udara-bahan bakar di dalam silinder. Tegangan tinggi membangkitkan bunga api listrik di celah antara elektroda tengah dan elektroda massa.

Sistem Pengapian Platina

Sistem Pengapian Platina

Sistem Pengapian Platina



Sistem pengapian mobil-mobil modern tak lepas dari perkembangan teknologi sistem pengapian pada mobil jadul alias masih menggunakan platina sebagai plat kontak untuk menghubungkan dan memutus aliran listrik primer koil agar terjadi induksi/GGL pada sekunder yang berupa listrik tegangan tinggi untuk mensuplai busi agar memercikkan bunga api.
Platina mobil berupa plat kontak yang berfungsi sebagai penghubung & pemutus yang di hubungkan oleh ebonit/kaki platina dan di kontrol oleh nok delco(Distributor), apabila kaki ebonit tidak terdorong oleh nok delco maka plat kontak akan terhubung sekaligus mengalirkan aliran listrik primer koil ke ground dan menciptakan medan magnet pada primer coil, dan pada saat nok delco menyentuh/mendorong ebonit platina maka listrik dari primel coil akan terputus, pada saat listrik primer coil terputus maka terjadi GGL/induksi tegangan tinggi pada sekunder coil, dengan adanya kondesor/kapasitor yang terhubung secara paralel dengan platina akan membantu meningkatkan besar induksi dan menghilangkan bunga api pada saat platina mulai terbuka/memutus, hal ini bertujuan agar plat kontak platina tidak mudah terbakar dan mampu berumur panjang.

Besar/lamanya saat platina terhubung di pengaruhi oleh lebar Permukaan AS delco yang rata/datar hal ini di sebut dengan sudut dwell, dimana sudut/lama saat platina menghubungkan aliran listrik ke primer coil. Apabila celah platina kita bikin rapat so pastisudut dwell akan menjadi besar dan kebalikannya.

Sistem pengapian pada platina bekerja dengan cara demikian :
Image
Image
Image
platina membuka dan menutup mengantarkan pulsa ground ke koil...sedangkan kutub postif koil sudah mendapat supply muatan postif langsung dari aki melalui kunci kontak.....
ketika diberikan pulsa maka koil akan bekerja, kumparan primer akan menginduksi kumparan sekunder yang jauh lebih banyak jumlah lilitannya...hal ini akan mengakibatkan bangkitnya Voltase listrik yang sangat besar...(10.000Volts atau lebih)....nanti keluaran koil ini yang akan di gunakan untuk memantik api pada busi...di butuhkan teganggan tinggi agar bisa terjadi lompatan bunga api pada elektroda busi sehingga bisa membakar campuran bahan bakar udara yang sudah terkompresi.....
Gambar Koil :
Image
Sederhana bukan....
Dibalik kesederhanaan itu terdapat beberapa kelemahan platina :
1. Apabila harus mengeluarkan voltage yang besar..(misalnya menggunakan koil racing) maka drawback voltagenya (tegangan balik ke platina) itu akan lebih besar dari biasanya dan akan mempercepat umur dari platina tersebut alias cepet bopeng....
2. pada saat kecepatan tinggi platina membuka tutup dengan sangat cepat...bayangkan hanya memanfaatkan plat dan gerakan mekanik untuk mengatur pengapian yang urutan dan timingnya harus tepat....plat itu lama2 akan mengalami defleksi...dan akan berubah setelannya itulah mengapa platina musti sering di adjust...
3. Semahal2nya platina suatu saat akan habis...atau aus....karena merupakan kontak poin,,,segala sesuatu yang kontak pasti akan aus...atau rusak....

Untuk mengatasi kelemahan2 kelemahan platina maka munculah..sistem pengapian CDI yang merupakan sedikit perombakan dari sistem pengapian yang conventional...(platina)
ada pun cara kerja CDI adalah demikian :
sistem pengapian CDI adalah sistem pengapian yang Contactless
Sistem pengapian CDI hanya memanfaatkan perubahan medan magnet yang di tangkap oleh sebuah sensor yaitu sensor Hall...setiap ada perubahan medan magnet secara tegak lurus terhadap sensor maka sensor tersebut akan mengirimkan pulsa ggl (gaya gerak listri atau emf).
Nah hasi pulsa dari ggl ini di terjemahkan lagi oleh suatu rankgaian berupa rangkaian op Amp...agar pulsanya dapat di perbesar dan dimanfaatkan untuk mengaktifkan koil.
Selebihnya sistem pengapian ini sama dengan sistem pengapian Platina....